Jejak Teror Tambang di Desa Baronang Dusun Mamput

oleh -660 views

Palangka Raya – Beberapa waktu yang lalu pada tanggal 01/11/2019  Tim investigasi Kaltengexpres.com melakukan kunjungan ke Desa Baronang Dusun Mumput Kec. Kapuas Tengah Kab. Kapuas, (KALTENG).

Dari kunjungan itu Tim bertemu dengan warga yang bernama Tono yang tinggal di Dusun Mumput Desa Baronang. ‘Tono” Menyampaikan bahwa PT.ASMIN BARA BRONANG yang bergerak di sektor pertambangan Batu Bara banyak menuai masalah di desa mereka.

Kehadiran Perusahaan Batu Bara ini dimulai sosialisasi pada tahun 2001, pada tahun 2005 s.d 2007 perusahaan melakukan eksplorasi di wilayah mereka. Pada tahun 2011 s.d 2012 dilakukan Tahap pembesan tahap pertama. Sosialisasi harga lahan pembebasan terjadi negosiasi yang alot dengan pihak perusahaan mulai dihargai dari 12 jt per Ha sampai pada angka 25 juta/ Ha nya. Proses pembebasan itu diawal masih berjalan mulus dan tidak ada masalah, tutur Tono”, warga Dusun Mamput Desa Baronang yang merupakan penduduk Asli Desa tersebut.

Wartawan media onlen melakukan wawancara kepada Tono dia pun menuturkan, Sebelum adanya tambang diwilayah  Desa Baronang di Kecamatan Kapuas Tengah masyarakat Harmonisasi, berbagi hasil pertanian dan berburu di desa merupakan bagian integritas yang utuh dari budaya kami, sedangkan hutan kami bisa berburu rusa, babi hutan dll, sedangka untuk sungai Kuatan semua warga bisa mencari ikan dengan baik, Air sungai Kuatan yang menjadi sumber hidup bisa kami nikmati dan bisa untuk diminum, aktivitas warga sangat tergantung dengan air sungai kuatan sebagai sumber kehidupan.

untuk sungai Kuatan yang dulunya bersih dan air tidak berwarna terlihat bening sampai ikan dan dasar sungai Kuatan bisa terlihat bahkan warga masyarakat desa baronang dan sekitarnya bisa meminum air sungai langsung di sungai tampa memasaknya yang mana itu sudah dilakukan dari orang tua dan nenek moyang, sebab air sungai waktu itu belum tercemar.

Tetapi sekarang air sungai Kuatan jangankan untuk kebutuhan rumah tangga memasak di kosunsi langsung air sungai Kuatan ga bisa lagi, kalaupun ada warga yang mamaksakan air sungai Kuatan untuk kebutuhan rumah tangga mereka akan mendapatkan sakit perut dan menceret, sedangkan warga yang mengunanakan sungai Kuatan untuk mandi mereka akan mendapatkan gatal gatal di seluruh tubuh, dan warga yang mencuci pakaian mereka akan menjadi berwarna kecoklatan bahkan buram.

Tono, menceritakan kepada tim bahwa sebelum masuknya perusahaan tambang tidak ada konflik sosial terkhusus masalah tanah di wilayah kami, semua warga bisa mengakses tanah untuk bertani untuk kebutuhan hidupnya. Tahun 2011, ketika pembebasan tanah sudah dilaksanakan di desa kami seketika itu pula yang tadinya kemiskinan didesa bukanlah hal yang paling utama, tetapi menjawab persoalan seolah-olah dengan menjual tanah menjadi alternatif menjawab kemiskinan di Desa kami yang jauh dari namanya pendidikan dan banyak harapan dengan masuk nya perusahaan tambang itu nasib kami akan lebih baik. Dengan jaminan sosialisasi yang dirangkai indah oleh pihak perusahaan akan melibatkan 70% warga kami untuk bekerja disektor tambang ini. Janji – janji itu hanya sekedar janji saja paparan Tono “Bisa itu dicek berapa jumlah warga kami yang bekerja di pertambangan, bisa dihitung dengan jari kok”. 

Untuk memenuhi hasrat keinginan tauwan kami, tim mencoba mendatangi rumah Kepala desa Baronang Bagariadi Iga. Tapi Kades itu tidak bisa kami temui, menurut keterangan warga setempat kepala desa ini tidak bisa dijumpai sebulan sekali kami bisa bertemu dengan dia saja sudah hebat. Kalau tidak jelas kepentingan dengan dia,”ucap salah satu warga.

 Tim akhirnya memutuskan untuk bertemu dengan sekretaris desa saudara Lewis yang baru menjadi sekdes disitu. Menurut keterangannya, bahwa soal pembebasan lahan warga untuk perusahaan tambang  dia tidak begitu tau dan lebih paham itu adalah urusan kepala Desa.

 Tetapi Lewis menuturkan, sangat kecewa dengan pihak perusahaan bahwa perusahaan inkar untuk melibatkan 70% warganya, dia memaparkan bahwa ada dilakukan pelatihan bagi warganya untuk mental dan kepribadian selama 1 bulan, Tetapi kenyataannya hanya 20 orang saja yang bekerja diperusahaan PT. ASMIN BARA BRONANG, lewis juga menyampaikan kepada tim bahwa pihak managemen perusahaan menyampaikan bahwa banyak SDM warga yang kurang. Jadi tidak bisa diperdayakan untuk bekerja, lewis juga mengungkap bahwa banyak kok yang pekerja jadi pembersih rumput di perusahaan PT. Asmin tetapi para perkerja ko malah dari luar desa yang dipekerjakan, kok bukan warga kami pada hal itu pekerjaan yang tidak menuntut ketrampilan tinggi,”tegas lewis sebagai Sekretaris Desa.

selain itu Menurutnya, banyak pekerja melamar dari luar desa kami diperusahaan PT. ASMI BARA BRONANG itu harus mendapatkan keterangan domisili dari Desa kami, yang bekerja di perusahaan itu ada ribuan orang, tapi bisa dihitung jari berapa warga kami yang terlibat. Kami sangat kecewa dengan perusahaan terhadap komitmentnya. Sepertinya ada permainan antara pihak perusahaan dengan perangkat Desa kami, sebelum saya menjadi sekdes dan Kepala Desa kami tidak ada tanggapan atau protes sama sekali dengan perusahaan tersebut bagaimana keterlibatan warganya diperusahaan Tambang Batu Bara itu,”Ungkap Lewis sebagai Sekretaris Desa.

Sosial, ekonomi dan budaya di Desa Baronang

Desa Baronang memiliki luas 334.41 km³ lebih luas dari desa-desa yang ada di kecamatan Kapuas Tengah. Mayoritas penduduknya bermukim dipinggiran sungai Kuatan anak sungai Kapuas dan sebagian berada dipinggiran Hutan dengan kondisi wilayah yang berbukit. Masyarakat disana menerapkan pola Berladang  yang berpindah-pindah dengan menanam padi lokal dimana hasil panennya disimpan untuk kebutuhan rumah tangga mereka. Untuk memenuhi kebutuhan hidup para lelaki umumnya suku dayak mereka berburu di hutan untuk mendapatkan Rusa, Babi hutan dll untuk dikonsumsi atau dijual mereka.

Sebagian besar desa di Kecamatan Kapuas Tengah berada dalam kategori desa swakarya yang artinya desa tersebut masih belum banyak mempunyai sarana dan prasarana untuk mengembangkan serta memamfaatkan potensi fisik dan nonfisik yang dimiliki desa tersebut. Tim menelusuri data di BPS sangat sulit mendapatkan jumlah detail penduduk, termasuk dari keterangan gender. Jumlah penduduk Desa Baronang 1.170 jiwa yang terbagi 1 Dusun, 3 RT.

Selain bertani, masyarakat juga melakukan penambangan tradisional baik itu dengan menggunakan mesin placer atau mengindang pasir secara manual yang dilakukan masyarakat Desa Baronang, keterangan mereka juga dengan pendapatan mencari emas tidak seberuntung itu, ya kadang tidak mencukupi untuk kebutuhan hidup sehari.

Keterangan dari Data BPS Kapuas Tahun 2014 terbaru selain itu data yang terbaru tidak dapat diakses, untuk status kerja di Kapuas Tengah 34% persen penduduk Kapuas Tengah merupakan pencari kerja (pengangguran tertutup) baik mereka sudah bekerja untuk mencari pekerjaan yang layak maupun mereka yang belum bekerja sama sekali atau baru lulus sekolah. Ini disebabkan kebanyakan dari mereka sedang menunggu masa panen atau masa tunggu menanam disektor pertanian/ perkebunan sehingga mereka mencoba mencari pekerjaan baru yang sifatnya tetap sebagai karyawan. Sedangkan 40% penduduk kapuas Tengah sudah bekerja disektor pertambangan, perkebunan dan perdagangan.*

Mengoreksi soal status Kerja di Kapuas Tengah khususnya di Desa Baronang, bahwa data tersebut harus dikoreksi. Temuan tim investigasi bahwa keterangan yang didapatkan bahwa pekerja yang ada disektor Pertambangan tidak lebih dari 20 orang saja, papar Sekdes Baronang kepada Tim Investigasi!. Bahwa ada manupulasi data dari pihak perusahaan kepada pemerintah Kabupaten Kapuas soal data para pekerja itu. Kenapa demikian, bahwa tenaga kerja di pertambangan mayoritas direkrut dari luar desa mereka. Pihak perusahaan menyarankan agar mendapatkan surat keterangan domisili Desa Baronang dari perangkat Desa dan tercatatlah para pekerja itu berasal dari Penduduk Desa Baronang atau menjadi pekerja lokal, hal itu terjadi karena adanya kerjasama tertutup antara oknum aparat desa dengan pihak manajemen perusahaan pertambangan dalam hal penempatan kerja. Praktek-praktek itu sudah terjadi mulai tahun 2012 s.d saat ini.

Alasan lemahnya pendidikan masyarakat untuk bekerja di Sektor Pertambangan khususnya di PT. ASMIN BARA BRONANG memang salah satu alasan klasik untuk menghindari tanggung jawab sosial mereka kepada warga Desa baronang yang merupakan wilayah ring 1 di lokasi pertambangan PT. ASMIN BARA BRONANG. Perlu dijelaskan  kenapa pendidikan di wilayah ini rendah, semuanya dikarenakan desa tersebut masih dalam status swakarya artinya sarana dan prasarana belum terpenuhi secara baik termasuk gedung sekolah setara.

Menurut Pak Lewis biaya kehidupan seorang anak disekolahkan ke wilayah kecamatan karena sekolah SMA hanya ada 1 diwilayah kecamatan nya. Sedikit sekali anak – anak warga yang bisa melanjutkan SMA dan perguruan tinggi,  hal itu dikaitkan dengan tingginya biaya dan jauhnya akses untuk kesekolah mereka sehingga anak-anak mereka harus di kostkan di pujon kota kecamatan mereka dan belum lagi biaya ongkos untuk menuju sekolah mereka harus menyebrang melewati ferry penyebrangan. Rata – rata orang tua mereka mengeluarkan biaya 3 juta rupiah untuk kebutuhan sebulan untuk anak mereka yang sekolah menengah Atas (SMA) di Pujon. Jarak tempuh ke kota kecamatan itu berjarak 60 Km ke Desa Baronang dengan medan yang berat, jika hujan jangankan mobil, sepeda motor pun tidak akan tembus ke Desa itu jadi warga mengkostkan anak mereka di Kota kecamatan atau tinggal di rumah keluarga mereka yang ada di Kota kecamatan.

Jadi lebih dari 60% anak-anak didesa tidak melanjutkan pendidikan mereka ke SMA, karena pilihannya tidak ada biaya untuk melanjutkan pendidikan dengan biaya hidup yang tinggi. Sedangkan untuk bekerja di Perusahaan belum lah bisa mungkin terbatasi dengan umur dan status pendidikan dan membuat tingkat pengangguran semakin tinggi di Desa dan memilih untuk ikut bekerja membantu orang tua mereka di kebun atau berburu di hutan untuk menjual hasil buruan mereka, atau mereka mencari ikan di sungai.

Menurut keterangan warga yang dikumpulkan oleh Tim Investigasi, bahwa bangunan sekolah SD baru dibangun pada tahun 2004, jadi selama ini warga banyak bersekolah di pujon kota kecamatan Kapuas Tengah yang sarana dan prasarananya sudah mendukung. Biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat untuk pendidikan SMP dan SMA relatif tinggi karna warga wajib mengkostkan anak-anak mereka. Masuknya Pertambangan di Wilayah Desa Baronang itu pada tahun 2018 kelar dibangun, padahal keberadaan perusahaan tambang sudah beroperasi pada tahun 2011 s.d sekarang. Keterangan yang kami dapat juga, kondisi pendidikan SD saat itu sangat memprihatinkan ada murid tapi sering guru tidak masuk untuk mengajar anak-anak disana. Dimungkinkan bahwa banyak anak-anak yang putus sekolah ketika mereka lulus SD tidak melanjutkan ke jenjang SMP apalagi ke SMA.

Jika pihak perusahaan memperdayakan warga dengan harapan adanya skill sesuai kemampuan di sektor pertambangan sepertinya hal yang tidak bisa diharapkan, karna itu kehadiran perusahaan tambang harusnya memberikan dampak perubahan yang berarti di tengah masyarakat khususnya disektor Pendidikan dan kesehatan. Kenyataan perusahaan berjalan mulai tahun 2011 sampai akhir tahun 2019 ini, ditahun 2018 akhir Pihak CSR (Corporate Social Responbility) PT. ABB baru membangun gedung SMP dan tenaga pengajarnya. Yang diharapkan anak-anak warga di Desa Baronang bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Dari 13 desa yang ada di Kecamatan Kapuas Tengah hanya di Desa Pujon ada SMA, dan rencananya ada 1 desa lagi yang akan dibangun SMK (Sekolah menengah Kejuruan) yang tadinya akan dibangun di Desa Baronang, tetapi karena sesuatu ada perubahan tempat, pada hal warga desa sudah menyumbangkan lahan mereka untuk dibangun gedung Sekolah untuk SMA dan itu semakin mendongkrak anak-anak mereka untuk tidak jauh untuk menempuh pendidikan ke kota kecamatan yang jaraknya 60 Km dari Desa Baronang ke Pujon.

Menurut keterangan Sekdes saudara lewis, bahwa warga kami sungguh kesusahan untuk membiayai anak-anak mereka untuk bersekolah, dan kami warga bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangga mereka. Apakah ada bantuan transportasi dari pihak perusahaan atau beasisswa bagi anak kurang mampu untuk melanjutkan pendidikan ke SMA ? tidak ada, jangan bantuan beasiswa membantu transportasi untuk anak-anak kami saja tidak sama sekali, ya kami pasrah saja dengan keadaan ini.

Sejauh apa dampak Ekonomi, setelah masuknya perusahaan Tambang Batu bara di Desa Baronang ?

Diawal 2011 ketika perusahaan sudah melakukan pembebasan lahan Tahap I, dengan negosiasi yang alot harga tanah 20 jt s.d 25 Jt per Ha memberikan angin segar bagi masyarakat, dan mereka berbondong-bondong agar tanah mereka bisa dibebaskan untuk lahan pertambangan Batubara, fantasi ekonomi mulai terasa, warga mulai membuka tambang-tambang lokal yang bisa menambah ekonomi mereka. Selain itu mereka juga bisa membangun rumah mereka dengan lebih baik. Tetapi kesenangan itu hanya sementara saja. Menurut keterangan warga “Tono”; Saat ini 80% lebih warga Desa baronang tidak memiliki lahan lagi, semuanya sudah dibebaskan oleh PT.ABB (Asmin Bara Baronang)

PT. ABB ( Asmin Bara Bronang) Adalah perusahaan pertambangan pemegang Perjanjian Kontrak Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara, dimiliki oleh PT. Tuah Turangga Agung, sebanyak 75,4% , PT Andalan Teguh Berjaya sebanyak 15,4 % dan PT. Mandiri Sanni Pratama sebanyak 9,2 %. Perseroan melakukan pelaporan kegiatan eksplorasi ABB periode juli 2019 untuk mengikuti ketentuan peraturan bursa. Biaya Kegiatan Eksplorasi untuk periode Juli 2019 adalah sebesar USD 31.349 atau setara Rp. 501.584.000 kegiatan expolorasi yang dilakukan berada disektor 7, Desa Baronang Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Kegiatan eksplorasi dilakukan oleh PT. ABB dibantu dengan subkontraktor.

(Red/Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *