OKI Kecam Serangan Teror di Christchurch.

oleh -193 views

kaltengexpres.com | Istanbul, 22 Maret 2019: “Indonesia mengutuk keras aksi terorisme yang terjadi di Masjid Al Nour dan Linwood di Christchurch, Selandia Baru,” tegas Menteri Luar Negeri RI, Retno L.P. Marsudi dalam 7 (tujuh) pesan kunci Indonesia pada Konferensi Tingkat Menteri Darurat Organisasi Kerja Sama Islam (KTM Darurat OKI) di Istanbul, Turki (22/3). KTM Darurat OKI membahas tragedi penembakan masjid di Christchurch serta upaya OKI menangkal ujaran kebencian kepada umat Muslim.

Pesan tersebut, merupakan satu diantara tujuh butir Utama pernyataan Menlu RI dalam pertemuan.

Dalam pesan kedua, Menlu RI juga menegaskan kecaman terhadap pernyataan yang dikeluarkan oleh Senator Fraser Anning dari Australia. Pernyataan Senator Anning dinilai tidak bertanggung jawab, menyakitkan dan ofensif.

Dalam pesan kunci yang ketiga, Menlu sampaikan bahwa sebagai anggota Dewan Keamanan PBB, Indonesia -bersama Kuwait- telah menginisiasi press statemen DK PBB mengecam keras tragedi Christchurch yang merenggut sejumlah korban jiwa, termasuk WNI.

Keempat, Menlu RI menyampaikan bahwa serangan di Christchurch mengingatkan kita bahwa tidak ada negara yang imun terhadap terorisme. Serangan Christchurch juga merupakan testamen masih kurangnya pemahaman publik bahwa Islam adalah agama yang damai. “Kita harus mencegah agar pemikiran ‘clash of civilizations’ tidak terjadi” , kata Menlu Retno.

Kelima, Indonesia menyampaikan bahwa OKI harus memperkuat nilai-nilai toleransi. Perdamaian hanya dapat dibangun dengan fondasi toleransi yang kuat.

Keenam, OKI perlu memperkuat upaya mempromosikan interfaith dialogue. Dan ketujuh, mengingat banyak kepentingan Ummah yang sedang hadapi tantangan, maka OKI harus bersatu dalam menangani tantangan Ummah, termasuk opresi yang terus terjadi terhadap bangsa Palestina.

Selain tujuh butir tersebut, Menlu RI mengingatkan agar OKI dapat meningkatkan komitmen untuk menggunakan OIC Contact Group for Peace and Dialogue sebagai platform untuk menangani Islamphobia dan bentuk diskriminasi lain yang dihadapi Ummah. (Alus/Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *